Kembali menulis di sini setelah sekian lama blog ini terabaikan. Mungkin tulisanku tak rapi. Mungkin kisah ini terlalu panjang. Tapi aku ingin menyimpannya di sini. Sebagai pengingat bahwa aku pernah mengalami fase seperti ini, dan masih Allah beri kesempatan untuk kembali. Bahwa hidup, meski terasa berat, ternyata masih layak diperjuangkan. Dan bahwa Allah, dengan segala kasih sayang-Nya, tak pernah benar-benar meninggalkanku.
Apakah ini yang orang-orang sebut sebagai quarter life crisis? Tapi saat mengalaminya, aku tak pernah benar-benar tahu harus menyebutnya apa. Yang kutahu hanya satu: aku bingung dengan hidupku sendiri. Bingung sampai rasanya malu. Bingung sampai merasa gagal, tak berguna, dan tak tahu harus melangkah ke mana.
Saat itu kepalaku penuh dengan pertanyaan yang berputar-putar tanpa ujung. Aku tak sedang ingin mati sepenuhnya, tapi aku ingin menghilang atau mungkin sejujurnya aku hanya ingin kabur. Kabur dari diriku sendiri. Entah kenapa, di tengah keinginan itu, aku justru melangkahkan kaki ke psikiater. Bukan karena aku tahu apa yang kucari, tapi mungkin karena aku hanya ingin bercerita. Atau mungkin diam-diam berharap ada seseorang yang bisa memberiku jawaban tentang: “sebenarnya aku harus apa?”