Ah... Aku baru melihatmu kembali hari ini
Tertidur nyenyak bersama selimut takdir
Teringat kembali kenangan tempo dulu
Kita menari bersama belati, mengukir nama dalam sebuah kaca abadi
Aku ke sini hanya untuk mengembalikan hatimu yang dulu sempat kupinjam
Hatimu ternyata tak se abadi yang kau bicarakan
Kini ia rusak dan busuk, mungkin sama sepertimu yang membusuk di sana
Showing posts with label Sajak Absurd. Show all posts
Showing posts with label Sajak Absurd. Show all posts
Monday, 10 July 2017
Saturday, 12 November 2016
Hampir
Hampir. Satu situasi yang selalu memacu jantung berdetak lebih cepat.
Hampir. Tadi hampir saja aku terjebak dalam kubik-kubik tak kasat mata. Ada sesuatu yang menarikku dengan paksa dari kubik ini menuju kubik tak kasat mata. Mungkin kubikku tak terkunci, jadi mereka dengan mudah memasuki dan menyeretku keluar dari kubik ini.
Aku harus cepat-cepat beli gembok untuk mengunci kubikku. Gembok yang kuat dan tahan lama.
Hampir. Tadi hampir saja aku terjebak dalam kubik-kubik tak kasat mata. Ada sesuatu yang menarikku dengan paksa dari kubik ini menuju kubik tak kasat mata. Mungkin kubikku tak terkunci, jadi mereka dengan mudah memasuki dan menyeretku keluar dari kubik ini.
Aku harus cepat-cepat beli gembok untuk mengunci kubikku. Gembok yang kuat dan tahan lama.
Saturday, 16 April 2016
Berasal Darimu
Setiap kataku mungkin berasal darimu, menuntunku
dalam setiap gerak, membimbingku bersama nyanyian waktu yang berdentang
Selimut-selimut harap yang dulu kau tuang, membuatku sadar bahwa hidup bukan hanya
sekedar napas
Kau mengajariku bagaimana mengeja waktu, menata
setiap detik yang terpecah, menyusunnya dalam catatan naskah
Kala aku terombang dalam lautan ketidakpastian, kau merengkuhku,
membisikkan mantra-mantra jitu, mengangkat daguku dan menegakkan bahu
Membuatku terperanjat, hidup ini bukan untuk
orang-orang lemah
Kemarin ketika awan mendung datang berkunjung, kau menyambutnya bagai
teman lama lantas asik bercengkrama
Membuatku tertampar bahwa hidup bukan untuk menatap
lara
Friday, 8 August 2014
Perantara Kata
Mari kita bergandeng tangan, memapah kata dalam lautan tawa
Aku hanya membutuhkanmu, untuk menjelajahi hidup bersama
Tak banyak yang kuinginkan, hanya bersamamu sampai tua
Bersedia memalingkan muka dan menatapku dalam segala suasana
Aku tak meminta harta benda, hanya cukup kamu menerimaku apa-adanya
Untukmu yang ada di sana, ini hanya sebatas rasa yang ku ungkapkan melalui perantara kata
Aku hanya membutuhkanmu, untuk menjelajahi hidup bersama
Tak banyak yang kuinginkan, hanya bersamamu sampai tua
Bersedia memalingkan muka dan menatapku dalam segala suasana
Aku tak meminta harta benda, hanya cukup kamu menerimaku apa-adanya
Untukmu yang ada di sana, ini hanya sebatas rasa yang ku ungkapkan melalui perantara kata
Tuesday, 5 August 2014
Mekanisme Rasa
Ini dapet bikin pas lagi PKL di jam istirahat dan bingung mesti ngapain karena belum banyak kenal orang *sedih* , akhirnya
duduk di ruangan kabag produksi sambil sibuk sok sok nulis, padahal nulis kek ginian :D
Di dalam kebisingan ini aku hanya bisa mengusap dada
membentuk asma dalam setiap desahnya
Kini semuanya terurai, mencabik rasa bersama helaan napasnya
Aku hanya bisa memandang, menatapnya dari balik jendela
Membiarkan ia terombang-ambing masa dalam pensucian jiwa
Ketika semuanya kembali bersatu, aku hanya bisa mengontrol
makna dalam seiap untainya, menunggu raga terpecah jiwa
Aku hanya bisa tersenyum menatap ia yang semakin sempurna
Membelit setiap luka yang terkadang menganga
Ia hanya kembali menuntut kata, membisikkan rasa dalam
untaian makna
Aku kembali hanya bisa merenggut setiap rasa yang terurai
bersama dahaga
Membentuk sepi ketika sepi tak lagi membahana
Aku hanya ingin terlelap bersamanya dalam labirin relung
jiwa yang terngiang dalam nada bahagia
Aku hanya ingin bersatu dengannya
Karena kita adalah sama
Kini semuanya tersenyum, ketika kita bersama membentuk rasa
dalam setiap untainya
~~~~~~~~~~0000000~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~0000000~~~~~~~~~
Dan entahlah ini saya nulis apaan :D
Kawan
Kawan yang dulu sempat menawarkan kepastian, kini pergi meninggalkan kehampaan
Mungkin ia menganggap kawan hanya sebuah batu lompatan
Ketika ia lebih dulu sampai ketepian, batu itu masih di sana, terjebak ketidakpastian
Aku hanya heran, apakah semua insan hanya memberikan ajakan bualan?
Memanfaatkan keluguan kawan yang tak pernah menganggapnya lawan?
Lantas membuangnya ketika kawan masih terjebak dalam hamparan keputusasaan?
Ah... hidup ini memang sialan!
Mungkin ia menganggap kawan hanya sebuah batu lompatan
Ketika ia lebih dulu sampai ketepian, batu itu masih di sana, terjebak ketidakpastian
Aku hanya heran, apakah semua insan hanya memberikan ajakan bualan?
Memanfaatkan keluguan kawan yang tak pernah menganggapnya lawan?
Lantas membuangnya ketika kawan masih terjebak dalam hamparan keputusasaan?
Ah... hidup ini memang sialan!
Tuesday, 18 September 2012
Musim Masa
Setiap musim datang membawa segenggam candu
Membelai merayu untuk sebuah keterlenaan
Menyanyi merdu untuk sebuah keterlupaan
Menari indah untuk sebuah keterpanaan
Membuat lupa akan tujuan masa depan
Mengabaikan setiap tanda-tanda yang datang
Hingga ketika sang angin datang membawa risalah-risalah
kesucian
Tak ada yang peduli
Hanya untuk sekedar menyapa
Hanya untuk sekedar mendengar
Hanya untuk sekedar menengok
Hanya untuk sekedar tau
Lalu ketika angin berhembus pergi
Semuanya terlambat
Hanya ada jiwa-jiwa rapuh yang mengisi kehampaan
Semuanya terlambat
Monday, 13 August 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
Gomawo~

