Kembali menulis di sini setelah sekian lama blog ini terabaikan. Mungkin tulisanku tak rapi. Mungkin kisah ini terlalu panjang. Tapi aku ingin menyimpannya di sini. Sebagai pengingat bahwa aku pernah mengalami fase seperti ini, dan masih Allah beri kesempatan untuk kembali. Bahwa hidup, meski terasa berat, ternyata masih layak diperjuangkan. Dan bahwa Allah, dengan segala kasih sayang-Nya, tak pernah benar-benar meninggalkanku.
Apakah ini yang orang-orang sebut sebagai quarter life crisis? Tapi saat mengalaminya, aku tak pernah benar-benar tahu harus menyebutnya apa. Yang kutahu hanya satu: aku bingung dengan hidupku sendiri. Bingung sampai rasanya malu. Bingung sampai merasa gagal, tak berguna, dan tak tahu harus melangkah ke mana.
Saat itu kepalaku penuh dengan pertanyaan yang berputar-putar tanpa ujung. Aku tak sedang ingin mati sepenuhnya, tapi aku ingin menghilang atau mungkin sejujurnya aku hanya ingin kabur. Kabur dari diriku sendiri. Entah kenapa, di tengah keinginan itu, aku justru melangkahkan kaki ke psikiater. Bukan karena aku tahu apa yang kucari, tapi mungkin karena aku hanya ingin bercerita. Atau mungkin diam-diam berharap ada seseorang yang bisa memberiku jawaban tentang: “sebenarnya aku harus apa?”
Aku bahkan tak terpikir untuk bertanya soal diagnosis. Ketika ada teman yang bertanya, “kamu didiagnosa apa?”, aku hanya menjawab seadanya. Katanya aku terlalu idealis, tapi versi diriku sendiri, sampai akhirnya aku stres oleh ekspektasiku sendiri. Itu memang yang disampaikan psikiater waktu itu. Aku diberi obat, juga beberapa hal yang harus kucoba kerjakan agar kondisiku membaik. Belakangan, karena penasaran, aku baru bertanya. Ternyata namanya gangguan cemas dan depresi.
Namun yang paling melelahkan bukan hanya rasa sedihnya, melainkan pertanyaan-pertanyaan logis yang tak pernah bisa kutemukan jawabannya. Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku sekolah, bekerja, menikah, punya anak, jika pada akhirnya semua akan mati? Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk, membuatku ragu, bahkan sempat menggoyahkan keyakinanku. Aku mulai bertanya: apakah Tuhan benar-benar ada? Apakah akhirat itu nyata?
Di titik itu, hidup terasa begitu rapuh. Ada hari-hari ketika aku berpikir, jika akhirat ternyata tidak ada, maka aku bisa pergi dari dunia ini kapan saja. Tapi anehnya, ada sesuatu yang menahanku. Keyakinan kecil yang tersisa, ketakutan yang mungkin terdengar pengecut, dan satu hal yang tak bisa kulepaskan begitu saja: dalam Islam, bunuh diri adalah dosa besar. Bagaimana jika surga dan neraka itu benar-benar ada?
Mungkin terdengar sederhana, tapi keyakinan kecil itulah yang menahanku. Di masa itu, aku sering pulang setiap minggu ke rumah orang tua. Di perjalanan, pikiranku kadang melayang ke arah yang gelap. Berharap kecelakaan terjadi, agar aku bisa menghilang tanpa harus menyakiti diri sendiri. Tapi Allah, dengan cara-Nya, masih memberiku kesempatan. Kesempatan untuk hidup. Kesempatan untuk mencari jawaban. Kesempatan untuk bertobat.
Karena psikiaterku non-muslim, aku tak banyak bertanya soal Islam. Aku fokus pada sisi medis saja. Hingga suatu hari, entah bagaimana, algoritma media sosial membawaku ke konten-konten yang tak pernah kucari sebelumnya. Aku bertemu dengan kajian Fuadh Naim di Yuk Ngaji, konten XKWavers, kelas Ngeslow bersama Ustadz Weemar, kelas Bang Risco tentang Origin of Life, dan bedah buku Beyond the Inspiration. Perlahan, potongan-potongan puzzle di kepalaku mulai tersusun.
Di sana aku menemukan Tuhan dari sisi yang tak pernah kusadari sebelumnya: sains. Fenomena alam, keteraturan semesta, dan penjelasan-penjelasan yang masuk akal bagiku. Aku memang tak jago sains, tapi aku menyukainya. Dan dari sanalah, keyakinanku mulai tumbuh kembali. Mungkin memang jalan setiap orang untuk menemukan Tuhan berbeda-beda.
Di masa depresi itu, aku juga pernah bertengkar dengan orang tuaku. Ada kalimat yang keluar, mungkin tak persis seperti ini, tapi intinya sama: “Aku gak mau dilahirin. Kenapa aku harus ada di dunia ini?” Kalimat yang kini terasa begitu berat jika kuingat kembali.
Menemukan jawaban bukan berarti aku langsung berubah menjadi pribadi yang taat. Tidak. Sampai sekarang pun aku masih berjuang. Masih sulit produktif, masih sering berpikir negatif, masih sering menunda. Tapi setidaknya, kini aku tahu arahku ke mana. Meski daftar “harus apa” itu belum sepenuhnya kulakukan, aku tahu aku sedang berjalan.
Aku juga bersyukur, karena dari Yuk Ngaji aku akhirnya mengenal Yuk Ngaji Bandung dan XKWavers. Di sana aku menemukan teman-teman yang bukan hanya saling mengingatkan dalam ibadah, tapi juga bisa tertawa, main, dan bertumbuh bersama.
No comments:
Post a Comment