Aku adalah seseorang yang takut menikah.
Takut dalam banyak bentuk yang kadang sulit dijelaskan satu per satu. Takut karena merasa belum cukup. Takut mengecewakan, dan takut dikecewakan. Takut aku tidak mampu menjadi pasangan yang baik, takut pasanganku terluka oleh kekuranganku. Takut aku kelelahan di tengah jalan, takut salah memilih, takut menjalani peran yang belum benar-benar kumengerti. Terlalu banyak takut, sampai kadang aku sendiri bingung harus mulai dari mana.
Mungkin karena itu, bagiku pernikahan bukan sesuatu yang bisa dijalani sambil lalu. Aku memandangnya sebagai ikatan yang terlalu besar untuk diserahkan pada kesiapan setengah-setengah. Maka sebelum sampai ke sana, aku merasa perlu memahami terlebih dahulu, pernikahan seperti apa yang sebenarnya kuinginkan, dan nilai apa yang ingin kujaga di dalamnya.
Aku tidak datang dengan gambaran kesempurnaan. Yang ada hanyalah keinginan untuk membangun pernikahan yang menenangkan. Bukan hubungan yang penuh tuntutan, bukan pula yang menekan dengan standar-standar yang melelahkan. Aku membayangkan pernikahan sebagai ruang aman, tempat dua orang bisa pulang, bernapas, dan belajar saling memahami dengan pelan.
Bagiku, pernikahan bukan tentang pencapaian besar yang harus dipamerkan. Ia lebih menyerupai perjalanan sederhana bersama seseorang yang sefrekuensi. Seseorang yang bisa diajak serius tanpa kehilangan rasa hangat, dan bisa bercanda tanpa kehilangan rasa hormat. Seseorang yang bersedia tumbuh bersama, bukan menuntut untuk segera sampai.
Aku membayangkan hubungan yang dibangun di atas komunikasi. Tentang hal-hal besar maupun hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Hubungan yang tidak menyimpan terlalu banyak prasangka, dan tidak menjadikan diam sebagai hukuman. Aku ingin pernikahan yang memberi ruang untuk berbeda, tanpa harus saling merendahkan.
Aku juga membayangkan pernikahan yang memberi rasa aman secara emosional. Tidak kasar dalam kata, tidak meledak-ledak dalam sikap. Tegas dalam prinsip, tapi tetap lembut dalam cara. Hubungan yang menjadikan Islam sebagai pijakan nilai, bukan sebagai alat untuk mengontrol atau menghakimi.
Tentang masa depan, aku belajar untuk tidak terlalu jauh berangan. Aku hanya ingin menjalani hidup berumah tangga dengan kesadaran bahwa semuanya adalah proses. Jika kelak diberi amanah lebih, aku ingin menjalaninya dengan tanggung jawab dan kehadiran yang utuh. Jika jalannya terasa berat, aku ingin tetap punya ruang untuk beristirahat dan saling menguatkan.
Aku tahu, semua ini masih sebatas harapan. Realita pernikahan tentu tidak selalu seindah bayangan. Akan ada lelah, salah paham, dan kecewa yang mungkin tak terhindarkan. Tapi aku percaya, selama niatnya dijaga dan arahnya jelas, ketidaksempurnaan itu bisa dilalui bersama.
Tulisan ini bukan tentang kesiapan penuh, apalagi kepastian. Ini hanya catatan tentang ketakutan, harapan, dan keinginan untuk membangun pernikahan yang sederhana namun bermakna. Pernikahan yang tidak menjanjikan bahagia setiap hari, tapi setidaknya memberi ketenangan untuk tetap bertahan dan bertumbuh bersama di jalan yang Allah ridhai.
No comments:
Post a Comment