Thursday, 2 March 2017

#GPU42 (Bagian 1)

Karena sudah lama sekali saya tidak posting-posting (abisan gatau mau nulis apa), dan barusan keingetan kalo saya pernah ikutan kuis #GPU42 taun lalu. Jadi mari kita posting ulang lagi di sini. Meskipun gak menang seenggaknya dulu pas ikutan ini seru, pleus bisa menuh-menuhin postingan di sini :D 
Dulu saya ikutan kuisnya pake fb yang sudah almarhum di tutup facebok karena namanya yang terlalu absurd katanya. Padahal dulu mau pake nama apa aja ga di apa-apain. Mungkin karena sekarang makin banyak kejahatan gara-gara fb jadi begitulah. Yang jelas fb saya tempat menyebar ke absurdan(?) itu sudah almarhum sekarang *hiks*
Padahal saya gapernah ngelakuin kejahatan apapun pake fb itu. Gapernah aneh-aneh. Cuman namanya aja yang gak umum sama paling bikin status galau *lah*

Oke. Jadi kuis #GPU42 ini diadakan untuk menyambut ulang tahun GPU yang ke 42 :

Tantangan #GPU42
GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Gramedia Pustaka Utama menantangmu untuk ikut #GPU42, sebuah rangkaian tantangan yang berlangsung selama 42 hari, mulai 16 Februari 2016 hingga 28 Maret 2016.

Program ini diselenggarakan dalam rangka menyambut ulang tahun Gramedia Pustaka Utama yang ke-42, dengan berbagai hadiah menarik untuk para pesertanya.

Yang harus kamu lakukan hanyalah menjawab tantangan sesuai tanggal di kalender, me-mention akun kami, dan menyertakan tagar #GPU42, di media pilihanmu (Twitter, Facebook, atau Instagram).


Pada pertengahan program (hari ke-21), kami akan memilih 4 peserta beruntung yang boleh memilih 4 buku GPU sebagai hadiah, ditambah 2 hadiah buku pilihan GPU. Sedangkan pada akhir program (hari ke-42), kami akan memilih 2 peserta yang paling konsisten menjawab tantangan kami, yang akan mendapatkan hadiah total 40 buku GPU dan 2 cinderamata keren dari Coup!

Ada juga kuis-kuis menarik di tanggal-tanggal tertentu! Jadi, pastikan kamu tidak ketinggalan program seru ini.

DAFTAR TANTANGAN #GPU42

Thursday, 9 February 2017

Kucing yang Bercengkrama

Sepasang kucing di hadapanku sedang asik bercengkrama. Mungkin sedang menikmati kesunyian di daerah sini. Keduanya berjalan beriringan, seolah sedang berkomunikasi lewat isyarat. Aku hanya tersenyum melihatnya dari sini, dari beranda rumah orang yang entah rumah siapa. Aku hanya ingin berdiam sebentar di sini, menjauh dari kebisingan dunia yang semakin menggila.

Sunday, 5 February 2017

Mungkin Langit Sedang Galau

Hari ini hujannya tak tentu. Sekejap turun hujan, beberapa menit kemudian reda lagi, lalu hujan lagi, kemudian reda. Begitu terus berulang-ulang. Apa langitnya mulai lelah menumpahkan air hujan? Atau cadangan hujannya sedang habis? Ah… atau mungkin sedang ia simpan untuk hujan nanti lagi. Aku tak tau, yang jelas, sedari tadi aku bolak balik memandang jendela memeriksa keadaan langit.

Monday, 26 December 2016

Apa Aku Bersalah Pada Waktu?

Segalanya dituntut serba cepat di sini. Dan aku pun begitu. Dituntut untuk terus cepat. Aku memang suka cepat, hanya saja ini berbeda dari cepat yang kuinginkan. Tik tok tik tok. Waktu seolah terus memburu. Apa ia mulai kesal padaku sehingga jalannya semakin cepat saja? Tapi aku tak tau apa yang membuatnya kesal. Apa aku minta maaf saja pada waktu? Siapa tau dia mau memaafkanku dan memperlambat jalannya.

Tuesday, 20 December 2016

Kabar

Selama tiga puluh menit ini, ruangan itu terasa sunyi. Menguarkan kepedihan pada setiap inci ruangan. Menghasilkan senyap yang ia ciptakan sendiri.

Seorang gadis remaja menelungkup lemah pada kasur kapuk lepet usang. Sesekali punggungnya bergetar seiring dengan isak tangis yang terdengar. Bulir air mata terus keluar selama hampir setengah jam ini, membasahi bantal lepetnya yang juga hampir usang.

Sebuah telepon genggam entah keluaran tahun berapa terus berdering hampir setiap lima menit sekali. Namun gadis itu tak menghiraukannya sedikitpun. Ia tetap bergeming dengan air mata yang terus mengalir tak bisa ia hentikan. Otaknya masih memikirkan kabar yang ia terima setengah jam lalu.

Tuesday, 6 December 2016

Bubur Daging

Tanganmu berdarah, aku takut sekali melihatnya. Apa kamu menyelamatkan kucing yang terluka lagi seperti kemarin-kemarin? Aku hanya cemas, kamu tau sendiri kan kalau aku takut darah. Kenapa kamu terus-terusan pulang dengan tangan berdarah sih? Aku hanya… cemas.

Ah iya... aku sudah buatkan bubur daging seperti yang selalu kamu inginkan.

Kamu... kenapa hanya tersenyum saja tanpa berkata apa-apa? Nanti selepas makan kamu ceritakan padaku apa yang terjadi. Oke?

Sunday, 27 November 2016

Di Kerangka Bangunan

Bangunan itu hanya tinggal kerangka, atau mungkin dari dulu memang hanya kerangka tak terselesaikan. Seorang wanita berkebaya kuning berdiri termangu di depannya. Menatap lumut-lumut pada dinding bata yang entah tinggal setengah atau baru terselesaikan setengah. Matanya menerawang. Entah merindukan kenangan masa lalu entah menyesalkan keadaan masa lalu. Ia tersenyum sekilas, lantas tangannya mengeluarkan setangkai bunga mawar kuning dari tas jinjing yang sedari tadi ia dekap. Ia letakkan perlahan mawar yang ia pegang di atas sebongkah batu di tengah kerangka bangunan. Bibirnya kembali menyunggingkan senyum sebelum langkah kakinya meninggalkan kerangka bangunan berlumut itu.

Wednesday, 16 November 2016

Fiksimini #4 : Bahasa Sunda

@aiobiobi

GUSTI.
Payuneun laut anjeuna nyarios ka abi, "Hayu urang sasarengan ka Gusti Nu Agung."

BEURANG.
Langit ting gorelap hurung. Dor-dar gelap ting gorowok. Ngaramekeun beurang ieu.

REUNGIT.
Niat na mah ameh apet meren, matak nepi ka nyium oge. Ngan anger we meunang panggebugan.

MALIKAN.
Niat na mah rek mere beja, tapi geuning kalah dibere beja. Atuh puguh wen manehna kalah ceurik lolongseran.

SONO.
Manehna kamari maa sampeu ka imah kuring. Ojol-ojol nanya, "Kumaha Damang?"

Saturday, 12 November 2016

Hampir

Hampir. Satu situasi yang selalu memacu jantung berdetak lebih cepat.

Hampir. Tadi hampir saja aku terjebak dalam kubik-kubik tak kasat mata. Ada sesuatu yang menarikku dengan paksa dari kubik ini menuju kubik tak kasat mata. Mungkin kubikku tak terkunci, jadi mereka dengan mudah memasuki dan menyeretku keluar dari kubik ini.

Aku harus cepat-cepat beli gembok untuk mengunci kubikku. Gembok yang kuat dan tahan lama.

Wednesday, 25 May 2016

Fiksimini #3

@aiobiobi

JANJIMU.
Hanya sekejap. Lalu menguap tak berbekas.

MALAS.
Kenpa malam ini kamar mandinya mendadak jauh?

MASIH HIDUP.
Gudangnya kosong. Wanita itu tak ada di sana. Padahal aku baru saja akan memberinya selimut putih.

LELAP.
Tadinya aku ingin mengajakmu lari pagi, tapi aku baru ingat semalam kau berpesta bersama para kecoa yang sekarat.

SEPI.
Semenjak pisau dapurku berlumuran darah, rumah ini menjadi lebih lengang.

MUTILASI.
Anak itu tersenyum, menatap mata yang tergeletak di telapak tangannya.

MARAH.
Aku harus beli cat tembok baru. Dinding rumahku banyak dipenuhi bercak merah.

BURUNG HANTU.
Lelaki itu selalu ketakutan ketika akan buang air kecil.

RACUN.
Aku tersenyum melihat pacarku makan dengan lahap.

TERLALU MANIS.
"Kenapa kakak cantik itu dikerubungi semut?" ujar anak berkuncir dua yang duduk di sampingku.

BOSAN.
Itulah kenapa kata-kataku mulai meracau tak jelas.

MALAM.
Ketika ia datang menyapamu tanpa kamu sadari.

MALAM.
Ketika ia harus menjelajahi gemerlap kota metropolitan.

RUMAH KOSONG.
"Rumah tetanggamu selalu ramai kalau malam hari," ujar temanku ketika pulang menginap selama seminggu.Aku hanya tersenyum kaku.

MALAM.
Aku hanya bisa tertawa melihatmu bersama tumpukan kertas.

MALAM.
Kamu menyapaku dengan belati di tanganmu.

MALAM.
Dia menunggunya pulang di depan lilin temaram.

MALAM.
Dia bersinar memenuhi lembaran kelam dengan keindahan.

BULAN.
Dia berdiri menatap langit. Menyapa Nenek Tua yang asik bercengkrama dengan kucingnya.

PAGI.
Wanita itu bergelung dalam selimut kebisingan.

BAWAH SADAR.
Kamu datang memberiku nyawa.

BIRU.
Kamu mematikan lampu.

JENDELA.
Mata itu terus mengawasiku.

MARAH.
Tanganmu berdarah.

PAGI.
Lelaki itu berjalan tertunduk, menapaki jalanan berlubang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

maafkan keabsurdan ini~

Gomawo~