"Masa depanmu mati tertimpa daun," kataku.
Kamu hanya terbahak kencang. Kamu bilang, "Aku sedang tidak ingin mendengar puisimu."
"Aku tidak sedang berpuisi," kataku.
Kau akhirnya terdiam, kemudian lari meninggalkan ragamu bersamaku. Kamu bilang, "Sialan."
Wednesday, 25 October 2017
Monday, 23 October 2017
Tikusinati
Malam ini insomnia kembali menyerang. Sudah hampir lima jam aku berguling kesana-kemari di atas kasur, tetapi mata ini masih enggan terpejam. Dan para tikus di atap sana seolah mengejekku. Mereka terus berlarian entah sedang mengejar apa, membuat suara gaduh tak henti-henti.
Mungkin karena kepalaku yang seringkali pusing ketika mengalami insomnia, diantara cicitan menjijikan para tikus itu aku mendengar suara, "Kita harus melakukan rencana selanjutnya, supaya bisa segera menguasai bumi."
Thursday, 10 August 2017
Pertemuan Klise
Aku bertemu dengannya setahun yang lalu di hari pertama kuliah, kami sama-sama mahasiswa baru saat itu. Pertemuan klise seperti di cerita-cerita. Dia menolongku ketika aku hampir terjatuh saat menyebrang di jalan depan kampus. Tangannya dengan sigap membantuku berdiri, setengah menyeretku ke pinggir jalan. Dengan ukuran tubuhnya yang hampir sama denganku dia cukup kuat.
“Kamu ga apa-apa?”
Suaranya adalah hal termerdu yang pernah aku dengar. Aku hanya bisa mengangguk dan sedikit tersenyum.
“Bisa jalan? Mau masuk bareng?”
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk dihadapannya. Mulutku terlalu kaku untuk bicara. Dia tersenyum manis seraya menuntunku berjalan memasuki gerbang. Aku pelan-pelan mengikuti langkahnya, berusaha keras supaya bibirku tak tersenyum terlalu lebar. Oh... pipiku terasa panas.
“Kamu ga apa-apa?”
Suaranya adalah hal termerdu yang pernah aku dengar. Aku hanya bisa mengangguk dan sedikit tersenyum.
“Bisa jalan? Mau masuk bareng?”
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk dihadapannya. Mulutku terlalu kaku untuk bicara. Dia tersenyum manis seraya menuntunku berjalan memasuki gerbang. Aku pelan-pelan mengikuti langkahnya, berusaha keras supaya bibirku tak tersenyum terlalu lebar. Oh... pipiku terasa panas.
Saturday, 5 August 2017
Alibi
Kamu pernah
bertanya padaku, “Kenapa tulisanmu pendek?”
Aku hanya
bisa menjawab, “Karena kebanyakan orang tidak suka bacaan panjang.” Dan kamupun
tersenyum seolah mengerti.
Sungguh,
harus berapa kali kukatakan padamu? Itu bukan karena kataku buntu.
Wednesday, 2 August 2017
Peti Hati
Aku selalu menyimpan hatiku dalam peti. Menguncinya di sana supaya
tidak kotor. Aku hanya takut ia hilang atau jatuh. Aku takut ia kotor dan
berdebu. Tapi ternyata hal yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadi tiba-tiba.
Kunci petinya hilang entah kemana. Aku tak bisa mengambil hatiku. Pernah aku
berpikir untuk menghancurkan petinya saja, tapi hatiku terlalu rapuh. Aku takut
hatiku ikut hancur jika petinya kuhancurkan. Ah... biarlah. Aku tetap bisa
hidup tanpanya. Biarkan saja hatiku tetap aman di dalam sana.
Pojok Benak
Kadang aku tak suka peristiwa istimewa, karena ketika peristiwa itu telah lewat aku akan sangat merindukannya, rasanya ingin kembali pada kejadian istimewa itu. Atau kadang ketika peristiwa istimewa itu tidak berjalan lancar sesuai yang dibayangkan, rasanya ingin kembali ke masa itu untuk menyempurnakan peristiwa. Aku lebih suka momen monoton sehari-hari, momen rutinitas sehari-hari yang tak menuntut begitu banyak kesempurnaan dan kepuasan batin. Yeah... aku memang seperti ini.
Tuesday, 1 August 2017
Fiksimini #5 : Semakin Absurd
@aiobiobi
HUJAN SEBATANG KARA.
Tadi malam serintik hujan menghampiri. Dia bilang rombongannya hilang diculik angin.
PADA DAUN.
Aku titipkan nasibku pada sehelai daun yang kutemui di jendela kamar. Terserah mau ia bawa kemana. Entah hilang terbawa angin atau mati terinjak kaki.
PENJAJA WAKTU.
Sekarang ini semua serba dijual. Tadi pagi aku melihat penjaja waktu. Berkeliaran di jalan membawa kantung-kantung angka. Katanya, kau bisa menambah jam untuk hari ini.
GANGGUAN.
"Nikmati saja." Ayah berujar santai ketika aku protes dengan layar televisi yang menayangkan parade semut setiap hari.
AKTING.
Ekspresinya alami sekali ketika rantai besi menjerat lehernya. "Cut!" Para Kru bergegas melepas rantai yang dipenuhi bercak merah.
DEPRESI.
Gadis itu tersenyum samar. Cutter di atas meja yang selama ini ia hiaraukan, kini lebih menarik perhatian.
NYAMUK.
Wangi darah selau menjadi topik perbincangan di akhirat.
VIDEO.
Ia baru beranjak bangun saat persediaan tisu di sampingnya habis.
APLAUSE.
Tirai sudah tertutup. Pertunjukan kali ini dipenuhi sesak dan sesal yang memenuhi bangku penonton.
POSESIF.
Tidak. Aku tidak membencimu. Aku hanya ingin mengawetkanmu dalam peti kaca yang kusiapkan.
TAK BERGERAK.
Mungkin dia terlalu lelah, setelah jantungnya aku awetkan tadi malam.
DALAM KEPALA.
Awan itu kembali datang. Menjemputku menuju negeri fatamorgana.
DENDAM.
Dia menangis melihat pisau yang ia pegang meleset dari dada temannya.
LEPAS.
Tengkorak itu berjalan terseok seok, memangku kepalanya sendiri.
PAGI.
Ketika semua langkah mengajakmu bercengkrama.
DUNIA KAKU.
Di dunia ini hanya ada saya dan kamu. Anda hanya pengingat ketika saya dan kamu sudah menyimpang terlalu jauh.
DIGITALISASI.
Para pawang ular sedang sibuk. Mereka sibuk belajar ai-ti, katanya ular tangga sudah digitalisasi.
HUJAN SEBATANG KARA.
Tadi malam serintik hujan menghampiri. Dia bilang rombongannya hilang diculik angin.
PADA DAUN.
Aku titipkan nasibku pada sehelai daun yang kutemui di jendela kamar. Terserah mau ia bawa kemana. Entah hilang terbawa angin atau mati terinjak kaki.
PENJAJA WAKTU.
Sekarang ini semua serba dijual. Tadi pagi aku melihat penjaja waktu. Berkeliaran di jalan membawa kantung-kantung angka. Katanya, kau bisa menambah jam untuk hari ini.
GANGGUAN.
"Nikmati saja." Ayah berujar santai ketika aku protes dengan layar televisi yang menayangkan parade semut setiap hari.
AKTING.
Ekspresinya alami sekali ketika rantai besi menjerat lehernya. "Cut!" Para Kru bergegas melepas rantai yang dipenuhi bercak merah.
DEPRESI.
Gadis itu tersenyum samar. Cutter di atas meja yang selama ini ia hiaraukan, kini lebih menarik perhatian.
NYAMUK.
Wangi darah selau menjadi topik perbincangan di akhirat.
VIDEO.
Ia baru beranjak bangun saat persediaan tisu di sampingnya habis.
APLAUSE.
Tirai sudah tertutup. Pertunjukan kali ini dipenuhi sesak dan sesal yang memenuhi bangku penonton.
POSESIF.
Tidak. Aku tidak membencimu. Aku hanya ingin mengawetkanmu dalam peti kaca yang kusiapkan.
TAK BERGERAK.
Mungkin dia terlalu lelah, setelah jantungnya aku awetkan tadi malam.
DALAM KEPALA.
Awan itu kembali datang. Menjemputku menuju negeri fatamorgana.
DENDAM.
Dia menangis melihat pisau yang ia pegang meleset dari dada temannya.
LEPAS.
Tengkorak itu berjalan terseok seok, memangku kepalanya sendiri.
PAGI.
Ketika semua langkah mengajakmu bercengkrama.
DUNIA KAKU.
Di dunia ini hanya ada saya dan kamu. Anda hanya pengingat ketika saya dan kamu sudah menyimpang terlalu jauh.
DIGITALISASI.
Para pawang ular sedang sibuk. Mereka sibuk belajar ai-ti, katanya ular tangga sudah digitalisasi.
Monday, 31 July 2017
Mimpi
Giginya menancap menembus kulit. Di antara kedua taringnya cairan merah kental mulai keluar. Oh... itu darah lenganku. Aku menatapnya sekilas. Ini tidak sakit, hanya terasa pegal. Mungkin indra perasaku tidak begitu peka saat ini.*
Monday, 10 July 2017
Hatimu
Ah... Aku baru melihatmu kembali hari ini
Tertidur nyenyak bersama selimut takdir
Teringat kembali kenangan tempo dulu
Kita menari bersama belati, mengukir nama dalam sebuah kaca abadi
Aku ke sini hanya untuk mengembalikan hatimu yang dulu sempat kupinjam
Hatimu ternyata tak se abadi yang kau bicarakan
Kini ia rusak dan busuk, mungkin sama sepertimu yang membusuk di sana
Tertidur nyenyak bersama selimut takdir
Teringat kembali kenangan tempo dulu
Kita menari bersama belati, mengukir nama dalam sebuah kaca abadi
Aku ke sini hanya untuk mengembalikan hatimu yang dulu sempat kupinjam
Hatimu ternyata tak se abadi yang kau bicarakan
Kini ia rusak dan busuk, mungkin sama sepertimu yang membusuk di sana
Friday, 30 June 2017
Aku, Kamu, dan Dia
Kamu hanya mencintainya. Kamu memilih aku karena aku mirip dengannya. Kamu tak pernah bisa melupakannya meskipun aku sudah berusaha. Kamu selalu mengingatnya ketika kamu melihatku. Apakah kamu tak pernah berpikir apa yang kurasakan? Apakah kamu tau hatiku terasa sesak ketika kamu tak sengaja memanggilku dengan namanya? Aku tau kamu berbeda, dan aku akan terus berusaha untuk bisa menerimamu sampai kamu juga mau menerimaku. Aku hanya berharap kamu bisa melihatku sebagai aku, bukan aku sebagai dia. Karena kami berbeda. Aku yang wanita dan dia laki-laki.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Gomawo~