Friday, 9 October 2015

Nulis Lagi... Yeay --"


Kayanya udah lama banget saya ga nulis lagi. Mungkin berbulan bulan. Tiap bikin tulisan itu rasanya malas sekalihhh kawan, pengennya tuh tiap hari tiduran doang *ternyata sampai sekarang dia selalu jadi musuh terbesarku*

Robert’s got a quick hand. He’ll look around the room He won’t tell you his plan He got a rolled ci……………….

Entah kenapa lagu ini sampai sekarang masih menjadi lagu favorit saya (yang versi foster the people yak bukan versi yang lain).

Omong omang soal menulis, entah kenapa tiap denger lagu ini selalu punya pikiran, “Saya harus nulis. Saya harus nulis. Saya harus nulis.” Meski pikiran itu terus menggaung dalam otak saya, tapi si malas ini selalu saja datang dan merusak suasana. Yang akhirnya saya cuma tiduran sambil dengerin lagu pump up kick dan menghayal sedang nulis. Iya ngehayal. Ngehayal doang. Cuma ngehayal doang kalo saya lagi nulis -_- menghayal itu hal terseru dan tergratis yang bisa dilakukan kawan. Sambil tiduran juga bisa ngayal.

Oke. Sekarang mari kita kembali mendengarkan lagunya foster the people favorit saya ini :3





Saturday, 28 February 2015

Apakah Salah Jika Saya...

Maaf. Ini hanya segelintir keresahan yang menghantui pikiran saya akhir-akhir ini. Mungkin anda anda dapat membantu meluruskan pemikiran saya yang yaaaahhh siapa tau menurut anda agak melenceng ini ;)

Banyak yang bilang pada saya, “Masa udah pake kerudung selebar itu gabisa jelasin apa itu islam?” “Masa udah pake kerudung selebar itu tapi ga hapal doa doa dalam islam?” “Masa udah pake kerudung selebar itu gabisa debat sama orang orang yang menghina islam?” dan “Masa…” “Masa.” “Masa…” yang lain.  Yah… otak saya tidak lebih cepat dari anda anda dalam menangkap suatu hal, makanya saya butuh waktu yang sangaaat lama dan harus membaca berulang-ulang supaya semua bacaan itu dapat tersimpan dalam otak saya. Saya masih mencari tau semua jawaban dari pertanyaan yang pernah mampir ke telinga saya, dan saya juga masih mempelajari tentang islam. Saya berkerudung lebar, apa salah orang seperti saya menggunkan kerudung lebar?

Saturday, 7 February 2015

Adol Ngomongkeun LDR

Aku teh barusan habis ngadangukeun curhatan si adol tentang LDR an di dieu :https://soundcloud.com/comicsunda/comicsunda-ngomongkeun-ldr  
Ya udah aku tulis lagi kata-katanya seperti biasa, lumayan buat minuhan postingan blog. Da aku mah apa atuh, aya blog ge sepi wae, bari postingan na saeutik :(
Sok nya regepkeun sing khusu, aku juga dengernya nepi ka ceurik balilihan tadi teh.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~000~~~~~~~~~~~~~~~~~

LDR, atau long distance rela*teuing si adol ngmong naon*ship, atau basa indonesianya hubungan jarak jauh, atau basa arabnya *aya nu ngomong make basa arab*, atau basa spanyolnya *aya nu ngomong make basa spanyol*, atau basa jepangnya *aya nu ngomong make basa jepang*, atau basa sundanya, “Geus nenangan nu deukeut gob**g siga nu euweuh deui”, adalah hubungan yang membuat rindu semakin menggebu. Tapi jelema nu LDR an, nyaeta jelema anu dikuatkeun hatena, diteguhkeun pendiriannana, jeung ditarima iman islam na. *aya lagu “amin... amin... amin…”*

LDR an ituh, teu sagampang manaskeun motor, kadang jenuh, kadang curiga, kadang pesimis ka hubungannana, bisa kuat atawa henteu ngajalananananana… ngajalanannana… Selain butuh sabar, LDR oge butuh saling percaya, butuh duit oge sih, soalna rindu itu berat men. Kita butuh lebih banyak enerji, nahan rindu, teu bisa katahan ku sangu sapiring. Komo mun deungeunna bari jeung kurupuk hungkul mah. Komo deui nahan rinduna bari dicarekan ku si mamah pedah lomari baju awut-awutan eusina. Urang apal. Pasti beurat pisan.


Sunday, 4 January 2015

Ngider ka Wonosobo

Akhir semester 7 kemarin, tepatnya 24 Desember 2014, saya dan beberapa teman kelas berkunjung ke Wonosobo. Ceritanya pengen maen dulu sebelum menghadapai pertempuran di UAS semester 7 nanti. Perjalanan Bandung-Wonososbo semaleman. Kami dari Cicaheum berangkat naik bis magrib an, dan nyampe di sana subuh an. Disana kami menginap di rumah salah satu teman kami yang sangat baik hati sekali mau menampung kami-kami sekaligus bersedia menampung perut lapar kami ini, terimakasih kawan :’)
                                                                                                                      
Hari pertama kami menghabiskan waktu seharian di rumah teman saya itu, membuang cape dari perjalanan Bandung – Wonosobo dengan berleha-leha dan tiduran.

Kami mengunjungi beberapa tempat di sana. Hari kamis, hari kedua kami di Wonosobo kami ke semacam tempat renang gitu, ada pemandian air panasnya juga. Biaya masuknya……..saya lupa nominalnya berapa tapi cukup ramah untuk ukuran anak kos yang mesti serba hemat.
Berhubung saya ga bisa renang, saya cuma diem-diem doang di pinggiran kolam, menikmati dinginnya air kolam, saya suka air dingiiin :3 Tapi saya kurang suka kolam tempat air panasnya, terlalu banyak orang.

Friday, 5 December 2014

Cerpen : Sebatas Kertas

Sekolah itu masih terlihat cukup ramai, padahal jam sekolah sudah usai dari setengah jam lalu. Beberapa anak berseragam putih merah masih terlihat berkeliaran di sekitar sekolah, sebagaian bergerombol di penjual makanan ringan, sebagaian di penjual mainan, sebagian hanya duduk-duduk di koridor menunggu jemputan, dan beberapa lagi asik berkejaran di halaman sekolah. Agni, seorang gadis berusia dua puluh lima tahun yang merupakan guru honorer di sana, sibuk membereskan barang-barangnya yang masih berserakan di atas meja.

Gerakan tangannya terhenti ketika suara Lena, salah seorang guru di sana menyapa pendengaran. “Pangeranmu dateng tuh,” ujarnya seraya tersenyum menggoda. Keduanya menoleh, memandang seorang lelaki yang baru saja keluar dari mobil yang terparkir di depan sekolah.

Agni hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan temannya itu. “Bukan pangeran, hanya teman dekat.”

“Iya, temen deket. Cuma udah pada pake cincin di jari.” Lena kembali menggoda Agni yang lagi-lagi hanya ditanggapi senyuman. “Udah balik sana. Udah nungguin tuh pangerannya.” Lena kembali berujar.

“Aku pulang duluan ya Len. Siang,” ujar Agni, tersenyum sekilas pada Lena sebelum meninggalkan ruang guru.

Gadis itu berjalan pelan melintasi halaman sekolah. Di depannya, Raffa, lelaki yang disebut-sebut Lena sebagai pangarannya tengah bersandar pada mobil, memeperhatikan sekitar, yang entah apa. Agni menghela napas pelan. Hampir semua orang menyebut Raffa sebagai ‘pangerannya’, yang nyatanya mereka hanya sepasang manusia yang terikat oleh sebuah cincin dan perkataan orangtua.

Wednesday, 12 November 2014

Puisi Sombong (Adol)

Kali ini pengen posting lagi kata-kata di puisi (?) bikinan kang adol aka @comicsunda ini:


Sepertinya saya mulai ketagihan dengerin puisi puisi nya kang adol yang melebihi ambang batas kepuitisan(?) ini *ngomong naon sih saya*

~~~~~~~~~~~~~~~0000000000~~~~~~~~~~~~~~~

Puisi Sombong
oleh : ComicSunda

Tuesday, 16 September 2014

Lelaki di Ujung Koridor

Matahari masih terik, padahal sudah hampir mendekati asar. Dua anak SMA keluar dari pintu kelas, sepertinya mereka baru selesai piket. Keduanya berjalan beriringan melewati koridor sekolah yang tambah sepi. Agni berjalan tertunduk dengan Deva yang terus sibuk berceloteh di sebelahnya. Sesekali Agni mengangkat wajah menatap Deva, dan kata, “Oh”, “Ya”, “Masa?” meluncur pelan dari bibirnya. Ia tak menyadari sepasang mata tengah mengawasi mereka berdua dari ujung koridor.

Tepat ketika Deva tak sengaja menjatuhkan ponsel dan Agni memungutnya, mata gadis itu tak sengaja menangkap tatapan dari sosok lelaki asing di ujung koridor. Gadis itu terdiam sejenak, saling pandang beberapa detik. Lelaki di ujung koridor mengerjap lebih awal, menyadari situasi. Lelaki itu berbalik, berjalan santai seolah tak pernah melihat Agni.

Agni masih terdiam dalam posisi jongkok, ia baru sadar ketika Deva ikut jongkok seraya berujar, “Kenapa? Hapenya rusak ya?”

“Eh?” Agni menoleh pada Deva yang tengah memandangnya.

Friday, 8 August 2014

Perantara Kata

Mari kita bergandeng tangan, memapah kata dalam lautan tawa
Aku hanya membutuhkanmu, untuk menjelajahi hidup bersama
Tak banyak yang kuinginkan, hanya bersamamu sampai tua
Bersedia memalingkan muka dan menatapku dalam segala suasana
Aku tak meminta harta benda, hanya cukup kamu menerimaku apa-adanya
Untukmu yang ada di sana, ini hanya sebatas rasa yang ku ungkapkan melalui perantara kata

Tuesday, 5 August 2014

Mekanisme Rasa

Ini dapet bikin pas lagi PKL di jam istirahat dan bingung mesti ngapain karena belum banyak kenal orang *sedih* , akhirnya duduk di ruangan kabag produksi sambil sibuk sok sok nulis, padahal nulis kek ginian :D

~~~~~~~~~~0000000~~~~~~~~~

Mekanisme Rasa

Di dalam kebisingan ini aku hanya bisa mengusap dada membentuk asma dalam setiap desahnya
Kini semuanya terurai, mencabik rasa bersama helaan napasnya
 
Aku hanya bisa memandang, menatapnya dari balik jendela
 
Membiarkan ia terombang-ambing masa dalam pensucian jiwa
 
Ketika semuanya kembali bersatu, aku hanya bisa mengontrol makna dalam seiap untainya, menunggu raga terpecah jiwa
 
Aku hanya bisa tersenyum menatap ia yang semakin sempurna
Membelit setiap luka yang terkadang menganga
 
Ia hanya kembali menuntut kata, membisikkan rasa dalam untaian makna
 
Aku kembali hanya bisa merenggut setiap rasa yang terurai bersama dahaga
 
Membentuk sepi ketika sepi tak lagi membahana
 
Aku hanya ingin terlelap bersamanya dalam labirin relung jiwa yang terngiang dalam nada bahagia
 
Aku hanya ingin bersatu dengannya
Karena kita adalah sama
 
Kini semuanya tersenyum, ketika kita bersama membentuk rasa dalam setiap untainya

~~~~~~~~~~0000000~~~~~~~~~

Dan entahlah ini saya nulis apaan :D

Kawan

Kawan yang dulu sempat menawarkan kepastian, kini pergi meninggalkan kehampaan
Mungkin ia menganggap kawan hanya sebuah batu lompatan
Ketika ia lebih dulu sampai ketepian, batu itu masih di sana, terjebak ketidakpastian
Aku hanya heran, apakah semua insan hanya memberikan ajakan bualan?
Memanfaatkan keluguan kawan yang tak pernah menganggapnya lawan?
Lantas membuangnya ketika kawan masih terjebak dalam hamparan keputusasaan?
Ah... hidup ini memang sialan!
Gomawo~