Wednesday, 23 May 2012

Cerpen : Kamu... Dalam Dunia Khayalku

Bukan salahku jika aku gugup bersamamu. Bukan salahku jika bayangmu melekat erat dalam benakku. Bukan salahku jika tawamu terekam jelas dalam ingatku. Bukan salahku jika aku mencintaimu. 

***

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Sebenarnya dia biasa saja seperti kebanyakan orang lain. Entah apa yang membuatnya menjadi sedikit berbeda di mataku. Aku sendiri tak begitu mengerti.

Tak sengaja. Aku bilang 'tak sengaja' aku memandangnya, itu bukan disengaja. Terserah saja jika kalian menganggapku mencari alasan. Aku sendiri bahkan tidak tau kenapa mataku ini terus memandangi sosoknya.

Hari ini dia duduk di sampingku, bukan apa-apa, dia hanya menyalin pekerjaan rumah. Meskipun tangannya sibuk menyalin tapi mulutnya tak henti berceloteh tentang sesuatu yang sama sekali tidak penting. Aku tau, otaknya kadang beres kadang tidak. Sampai sekarang aku masih bingung orang seperti apa dia itu. Kadang urakan, kadang menyenangkan. Kadang menyebalkan, kadang ia bisa menjadi seorang yang dewasa. Tapi satu hal yang aku tau. Aku mencintainya. Entah dari sisi mananya yang membuatku tersihir.

Monday, 6 February 2012

Aku...

Aku… hanya seorang anak kikuk yang sering salah mengambil langkah. Aku hanya seorang anak tak berguna yang selalu membuat resah. Aku selalu ingin mengucapkan terimakasih banyak untuk keluargaku yang selalu menerimaku sebagai tempat aku pulang. Aku sangat berterimakasih kepada mereka yang mau menerimaku yang sangat tidak berguna ini. Aku bahkan selalu merepotkan mereka. Dan mungkin mereka menyesal telah memiliki anak sepertiku. Tapi mereka tak pernah mengatakan itu padaku. Mereka tetap memelukku, mengajakku untuk selalu pulang ketika bahkan aku tak punya keberanian untuk menampakkan wajahku di hadapan mereka. Aku merasa saat ini benar-benar tak berguna.

Thursday, 12 January 2012

Cagni : Cakka Agni

Oke. di tengah-tengah ketegangan yang melanda karena UAS tiga minggu belakangan ini. Saya sebagai 'cagnilovers' akan memposting beberapa gambar editan Cakka dan Agni yang gak jelas karya tangan termpil merusak ini. Jeng jeng jeng...
Selamat menikmati gambar saya yang sangat... (isi sendiri).
Maaf kalo ada yang gak suka sama editannya.




Friday, 30 September 2011

Genangan Harapan

Tulisan ini saya buat dalam untuk memenuhi tugas narasi yang ditugaskan dosen mata kuliah Bahasa Indonesia pada semester awal saya belajar di STT Tekstil ini.


Genangan Harapan

Kata orang, semakin tinggi pohon, semakin besar angin yang berhembus. Jika pondasi akarnya tidak kuat, maka pohon tersebut akan tercabut dari tanah. Begitupun hidup. Semakin orang beranjak dewasa, semakin besar ujian yang menghadang. Jika pondasi harapannya tidak kuat, maka dia akan tercabut dari seleksi alam yang ia hadapi.

***

Saturday, 27 August 2011

Cerpen : Hope of Love

Berharap. Tak ada yang salah dengan kata itu. Hanya sebuah kata yang tersusun dari delapan huruf. Tapi mengapa terdengar begitu lemah? Tak salah bukan jika kita berharap? Meskipun harapan itu tak mungkin terwujud.

***

Aku memasuki kelas dengan baterai energi yang hampir habis. Bagaimana tidak, aku menghabiskan hampir sepanjang malam hanya untuk membuat  fanfict idola cilik. Mungkin terdengar kekanakan, tapi aku suka anak-anak idola cilik itu. Mereka begitu lucu, pandai bernyanyi, pintar, dan keren. Aku suka menjodoh-jodohkan mereka dalam imajinasiku.

"Pagi Va." Aku mendengar suara berat menyapa telinga begitu aku duduk di bangku.

"Oh... Pagi." Aku menjawab agak gugup karena tak biasanya ada laki-laki yang menyapaku, biasanya mereka hanya menganggapku angin lalu di kelas ini.

Aku mendongak memandang seseorang yang sedang asyik mengotak-atik komputer kelas di meja guru. Ternyata Irsyad. Pantas saja dia menyapa, menurutku dia murid laki-laki paling cerewet di kelas ini. Aku menghela napas, lalu membaringkan kepala pada bangku di hadapanku. Mungkin aku menghela napas terlalu keras, karena beberapa detik setelah aku membaringkan kepala, suara Irsyad kembali terdengar.

Friday, 9 April 2010

Cerpen : Apa-apaan Ini?

Drrrttt! Drrrttt! Drrrttt!

Ponsel yang kuletakkan di atas meja bergetar. Aku beranjak, lantas mengambilnya yang semakin bergetar heboh. Ternyata Cakka, pacarku yang sering mendeklarasikan diri sendiri ganteng menelpon.

"Ada apa Cak?" ujarku dengan sebelah tangan yang masih sibuk memilih buku pelajaran untuk hari ini.

"Umm... Ag?" terdengar suaranya dari sebrang.

"Hmmm..."

"Aku mau kita putus," ujarnya lirih.

Aku berhenti sebentar dari memilih-milih buku pelajaran. Serasa ada tiba-tiba yang menghisap semua oksigen di ruangan ini, sesak sekali rasanya. Mataku memanas dengan sendirinya, mengundang beberapa tetes air untuk bergelung di ujung kelopak mata. Tapi apa yang harus kuperbuat? Memohon padanya untuk berpikir ualng? Memohon padanya untuk menjelaskan kenapa? Atau mungkin hubungan kami memang sudah waktunya berakhir? Memang, beberapa hari ini hubunganku dengannya sedang bermasalah. Aku menghela napas setelah beberapa detik mematung di tempat. Pada akhirnya ego gengsikulah yang menguasai. Kukumpulkan tenaga dan suara yang cukup santai untuk menanggapi pernyataannya, berusaha sekuat tenaga menghilangkan nada bergetar yang keluar dari mulutku.

"Ya kalo itu mau lo boleh aja," ujarku sesantai mungkin. Aku langsung memutuskan panggilan, lantas membantingnya ke kasur, aku masih sadar untuk tidak membantingnya ke lantai, tau diri kalau aku belum bisa mencari uang.

Dasar! Cakka bodoh! Oke lupakan dia! Dan jangan menangis! Sekuat tenaga aku mendoktrin diriku sendiri.

Monday, 22 March 2010

Sepuluh : Akhir

Akhir

Matahari masih bersinar, memancarkan cahaya jingganya sore itu. Ozy duduk sendirian di pinggir danau. Tangannya memain-mainkan sehelai daun yang tadi dipetiknya.
Sudah enam tahun berlalu semenjak gerbang Barbush dibuka. Ray sudah mulai merelakan Olivia di kehidupan barunya, dia sudah mempunyai incaran baru. Keke, gadis manis yang sedikit pendiam. Rio juga sudah mulai merelakan hubungan Cakka dengan Agni. Sekarang dia mulai dekat dengan salah satu gadis teman kuliahnya, namanya Ify. Sementara Cakka dan Agni sudah tunangan, tak ada yang menyangka mereka akan tunangan. Ray dan Acha benar-benar akan menjadi saudara ipar. Hubungan Ozy dan Acha pun semakin membaik, mereka saling melengkapi dan mengingatkan. Tak ada yang mengerti, bagaimana perasaan kedua anak itu.
Gomawo~