Saturday, 12 December 2015

Subuh


Aku berada di kantor tempat kerja, tapi ruang tamunya sedikit berbeda. Kuamati sekeliling sejenak, dan akhirnya menyerah ketika tak menemukan apapun yang membuat ruang tamu ini terasa berbeda. Di sana ada yang mau wawancara, wajahnya tidak begitu terlihat. Dia duduk di kursi dekat pinggir pintu, cahaya dari luar cukup menyilaukan mata sehingga wajahnya tak terlihat jelas. Tapi setelah kuperhatikan beberapa lama dengan menajamkan penglihatan, ternyata dia teman sekampungku.

“Asep? Asep ya?” Aku agak ragu bertanya. Dia menganggukkan kepala seraya tersenyum.

Kami mulai ngobrol ringan di sana, tanya kabar keadaan keluarga di kampung halaman. Kami sedang asik-asiknya mengenang kampung halaman, ketika ada rombongan keluarga memasuki ruang tamu. Mereka tamu di tempat kerjaku. Karena kursinya tidak akan cukup kalau kami semua duduk di ruangan itu, akhirnya aku dan salah satu temanku, yang entah kapan datangnya langsung masuk ke dalam.

Di dalam ada salah satu teman SMP-ku dekat tangga sedang melakukan ritual aneh, katanya itu untuk mengusir setan. Dia mengumplkan roh-roh halus terlebih dahulu, lalu memusnahkannya. Ketika aku dan teman kerjaku akan menaiki tangga, dia bilang dia akan memanggil roh halusnya jadi kami disuruh untuk cepat-cepat menaiki tangga sebelum roh itu muncul. Karena siapa tau roh itu akan menempel pada kami. Aku buru-buru menaiki tangga disusul temanku yang juga ikut tergesa. Berbarengan dengan menginjakkan kaki pada tangga terakhir, roh-roh itu bermunculan. Sebenarnya roh itu tidak terlihat, tapi entah kenapa aku tau kalau roh itu sudah mulai berdatangan.

Wednesday, 2 December 2015

Tak Menarik untuk Disimak

Tulisanku berubah, menjadi aneh ketika kata-kata itu teruntai. Tangan ini kembali kaku saat menjemput kata. Huruf-huruf seolah asing bagiku. Aku hanya kembali berceloteh tak tentu arah. Ah... atau mungkin hidupku yang telah berubah? Tak lagi menarik untuk disimak, tak lagi menarik untuk dicatat.

Aku hanya bisa menengok kepingan rasa yang terjatuh. Berserakan bersama sampah dan daun di tengah jalan. Akankah ada yang menemukan kepingan itu? ketika rasa yang ada tak lagi bermakna. Aku merasa asing dengan diriku sendiri. Ini menjijikan ketika cermin itu memantulkan bayangnya. Hanya ada sesak yang kurasa ketika kutengok diriku disana. Apakah itu aku? Berlumuran dengan tinta hitam kelam. Akankah ini berubah ketika semuanya terlanjur merekah? Yang kudengar kini hanya musik yang mengalun lelah. Mendendangkan nadanya dalam resah.*

Friday, 27 November 2015

Aku Turut Bahagia

Gadis itu berdiri kaku. Kenapa ia bisa begitu bodoh? Mengharapkan sesuatu yang sangat tidak mungkin. Lihatlah… mereka terlihat begitu bahagia. Lalu dirinya? Hanya bisa memandang kehampaan. Gadis itu menyunggingkan bibir berusaha terlihat riang. “Aku turut bahagia,” ucapnya sedikit bergetar. Ia berusaha sekuat tenaga menahan kelopak matanya supaya tidak membiarkan bendungan tangis yang sedari tadi ia tahan tumpah ruah.*

Thursday, 12 November 2015

Huhujanan di Maribaya

Hari minggu kemarin saya sama temen saya ceritanya jalan-jalan ke Maribaya. Meski diguyur hujan tapi lumayan seru *maen ujan-ujanannya yang seru* :D


Kami berangkat dari kosan jam 9 an, hampir mendekati jam 10 sih, biasaaa ngaret ngaret -_- 
Dari kosan di Jl. Jakarta kita naek angkot Margahayu – Ledeng, hampir sejam an kita baru nyampe terminal Ledeng, seperti biasa, terjebak dalam kemacetan panjang akhir minggu. Di terminal Ledeng udah mendung aja tuh langit, padahal pas tadi berangkat dari kosan masih panas terik. Kita terus-terusan berdoa semoga selama kita di sana ga ujan, malem hari aja ntar ujannya.

Wednesday, 4 November 2015

Terjemahan : Bayangan Masa Lalu

Kali ini saya cuma mau posting cerpen terjemahan yang pernah saya terjemahin dari majalah Story edisi 39. Sebenernya waktu itu saya pernah ngirim hasil terjemahan ini ke Story, tapi ternyata gak lolos *syedih*

Saya harus belajar lebih banyak lagi dalam hal menulis dan menerjemahkan.


Bayangan Masa Lalu

“Hey tunggu!” teriakku pada wantia yang berlari di hadapanku. Wanita itu berhenti dan menoleh, memandangku. “Kenapa kau berlari? Apa yang kau takutkan?” tayaku. Bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu. Tapi, tiba-tiba ia berteriak keras, membuatku terkejut... “Aaaa.”

Saturday, 31 October 2015

Horor Komedi : Malam Minggu

Malam minggu. Nadin dan Rakka, sepasang muda mudi tengah duduk berdampingan di sebuah taman. Keduanya hanya menunduk malu, kadang kedua mata mereka saling bertemu, saling tersenyum sekilas, lantas  menunduk kembali. Keduanya terus seperti itu sampai sang wanita hanya menunduk tanpa memandang yang satunya lagi.

“Mmm... Nad, aku mau ngaku sesuatu sama kamu.” Rakka berujar ragu.

Melihat tak ada reaksi apapun dari Nadin, Rakka melanjutkan perkataannya.

“Sebenernya... aku... mmm... aku... aku... suka sama kamu. Kamu mau ga jadi... jadi... pacar aku?” Tetap tak ada tanggapan apapun dari Nadin yang masih menunduk. “Eh tapi tapi tapi kalo kamu belum bisa jawab apa-apa, ga apa-apa kok jawabnya kapan aja. Aku gak maksa kamu buat jawab malam ini. Aku cuma mau kamu tau aja apa yang aku rasakan selama ini sama kamu.”

Tuesday, 27 October 2015

Cerpen : Gaun Kekasih

"Maaf." Wanita itu menunduk, berujar pelan. "Aku tak akan menemuinya lagi."

Alvin, seorang lelaki berperawakan tinggi, hanya menatap Wanita di hadapannya. Meskipun rahangnya mengeras menahan marah, bibirnya menyunggingkan seulas senyum tipis.

"Sudahlah," lirih Alvin, meghela napas pelan, lantas tangannya mengelus lembut pipi kiri Wanita itu. "Selama kau tak menemuinya lagi itu sudah cukup," ujarnya kembali. Wanita di hadapan Alvin mendongak, tersenyum, lantas memeluk lelaki itu.

"Aku mencintaimu." Wanita itu berkata lirih.

Perlahan tangan Alvin membalas pelukannya. Bibirnya kembali menyunggingkan seulas senyum tipis.

Thursday, 22 October 2015

Horor Komedi : Polisi Kuburan

Koran Kammal (Kamis Malam) 
Headline : Kembali, terjadi perampokan di pusat kawasan Kuburan Elite. Tak ada korban jiwa, tetapi diduga kerugian mencapai lima juta dolar akhirat.

Sesosok makhluk serba hitam menutup koran malamnya. “Ah paling Si Gunder yang beraksi lagi ini. Kalo polisinya kaga diganti nyampe kiamat juga kagak bakalan ketangkep tuh rampok.”

“Ada apa sih Pa? Malem-malem gini udah ngedumel. Tambah item ntar.” Sesosok makhluk lain berambut panjang dengan daster putih menghampiri makhluk hitam tadi.

“Ini Ti, sistem keamanan pekuburan di sini. Gak bakal berkembang kalo kaya gini terus. Harusnya kita rundingin lagi siapa yang pantes jadi polisi.”

“Udahlah Pa, lagian kuburan kita gak bakal kemalingan. Gunder kan temen baik Bapa.” Kunti kini duduk di samping Makhluk Hitam tadi. “Tolong beliin makanan dong Pa, ke warungnya Kunti Emin. Makanan kita udah abis, Si Tuyul minta susu terus, kasian tambah kecil dia ntar.”

Wednesday, 14 October 2015

Bambung Hideung

"Bambung hideung, bara-bara teuing diri. Leuheung bari dianggo ka suka galih. Situ pinuh balong jero. Bebendon sareung bebendu unggal ti salira ju…ag. Awiiii teh pangajul buah, lantaran ti kitu. Sora bedil luhur mega paripaos, teu paya lepat saeutik. Diri abdi kagamparan.

Eeee.. banondari, nu geulis kawanti wanti. Nu endah na malih warna puputon kembang kadaton. Jungjunan, lamun teu… kauntun tipung, katambang beas laksana kapiduriat. Matak paeh ngabale bangke. Matak edan leuleuweungan."

Konon katanya, ketika nyanyian itu mengalun. Mereka menari. Berarak keliling kampong. Menjemput jiwa-jiwa yang lengah. Aku tak percaya hal itu, sampai kemarin malam nyanyian itu terdengar. Mengalun mendayu menyapa telinga.

***

Angin semakin menelisisk tengkuk ketika di kejauhan terdengar suara kendang, saling bersahut mengimbangi iringan kendang lain. Lamat-lamat terdengar merdu suara wanita di antara tabuhan-tabuhan. Aku melihat rombongan iring-iring berarak keliling kampung, mengantar kelam yang semakin mengudara. Rombongan tadi menari-nari dengan luwes, menjemput para jiwa yang dibiarkan tersesat.

Friday, 9 October 2015

Nulis Lagi... Yeay --"


Kayanya udah lama banget saya ga nulis lagi. Mungkin berbulan bulan. Tiap bikin tulisan itu rasanya malas sekalihhh kawan, pengennya tuh tiap hari tiduran doang *ternyata sampai sekarang dia selalu jadi musuh terbesarku*

Robert’s got a quick hand. He’ll look around the room He won’t tell you his plan He got a rolled ci……………….

Entah kenapa lagu ini sampai sekarang masih menjadi lagu favorit saya (yang versi foster the people yak bukan versi yang lain).

Omong omang soal menulis, entah kenapa tiap denger lagu ini selalu punya pikiran, “Saya harus nulis. Saya harus nulis. Saya harus nulis.” Meski pikiran itu terus menggaung dalam otak saya, tapi si malas ini selalu saja datang dan merusak suasana. Yang akhirnya saya cuma tiduran sambil dengerin lagu pump up kick dan menghayal sedang nulis. Iya ngehayal. Ngehayal doang. Cuma ngehayal doang kalo saya lagi nulis -_- menghayal itu hal terseru dan tergratis yang bisa dilakukan kawan. Sambil tiduran juga bisa ngayal.

Oke. Sekarang mari kita kembali mendengarkan lagunya foster the people favorit saya ini :3





Gomawo~