Saturday, 27 August 2011

Cerpen : Hope of Love

Berharap. Tak ada yang salah dengan kata itu. Hanya sebuah kata yang tersusun dari delapan huruf. Tapi mengapa terdengar begitu lemah? Tak salah bukan jika kita berharap? Meskipun harapan itu tak mungkin terwujud.

***

Aku memasuki kelas dengan baterai energi yang hampir habis. Bagaimana tidak, aku menghabiskan hampir sepanjang malam hanya untuk membuat  fanfict idola cilik. Mungkin terdengar kekanakan, tapi aku suka anak-anak idola cilik itu. Mereka begitu lucu, pandai bernyanyi, pintar, dan keren. Aku suka menjodoh-jodohkan mereka dalam imajinasiku.

"Pagi Va." Aku mendengar suara berat menyapa telinga begitu aku duduk di bangku.

"Oh... Pagi." Aku menjawab agak gugup karena tak biasanya ada laki-laki yang menyapaku, biasanya mereka hanya menganggapku angin lalu di kelas ini.

Aku mendongak memandang seseorang yang sedang asyik mengotak-atik komputer kelas di meja guru. Ternyata Irsyad. Pantas saja dia menyapa, menurutku dia murid laki-laki paling cerewet di kelas ini. Aku menghela napas, lalu membaringkan kepala pada bangku di hadapanku. Mungkin aku menghela napas terlalu keras, karena beberapa detik setelah aku membaringkan kepala, suara Irsyad kembali terdengar.

Friday, 9 April 2010

Cerpen : Apa-apaan Ini?

Drrrttt! Drrrttt! Drrrttt!

Ponsel yang kuletakkan di atas meja bergetar. Aku beranjak, lantas mengambilnya yang semakin bergetar heboh. Ternyata Cakka, pacarku yang sering mendeklarasikan diri sendiri ganteng menelpon.

"Ada apa Cak?" ujarku dengan sebelah tangan yang masih sibuk memilih buku pelajaran untuk hari ini.

"Umm... Ag?" terdengar suaranya dari sebrang.

"Hmmm..."

"Aku mau kita putus," ujarnya lirih.

Aku berhenti sebentar dari memilih-milih buku pelajaran. Serasa ada tiba-tiba yang menghisap semua oksigen di ruangan ini, sesak sekali rasanya. Mataku memanas dengan sendirinya, mengundang beberapa tetes air untuk bergelung di ujung kelopak mata. Tapi apa yang harus kuperbuat? Memohon padanya untuk berpikir ualng? Memohon padanya untuk menjelaskan kenapa? Atau mungkin hubungan kami memang sudah waktunya berakhir? Memang, beberapa hari ini hubunganku dengannya sedang bermasalah. Aku menghela napas setelah beberapa detik mematung di tempat. Pada akhirnya ego gengsikulah yang menguasai. Kukumpulkan tenaga dan suara yang cukup santai untuk menanggapi pernyataannya, berusaha sekuat tenaga menghilangkan nada bergetar yang keluar dari mulutku.

"Ya kalo itu mau lo boleh aja," ujarku sesantai mungkin. Aku langsung memutuskan panggilan, lantas membantingnya ke kasur, aku masih sadar untuk tidak membantingnya ke lantai, tau diri kalau aku belum bisa mencari uang.

Dasar! Cakka bodoh! Oke lupakan dia! Dan jangan menangis! Sekuat tenaga aku mendoktrin diriku sendiri.

Monday, 22 March 2010

Sepuluh : Akhir

Akhir

Matahari masih bersinar, memancarkan cahaya jingganya sore itu. Ozy duduk sendirian di pinggir danau. Tangannya memain-mainkan sehelai daun yang tadi dipetiknya.
Sudah enam tahun berlalu semenjak gerbang Barbush dibuka. Ray sudah mulai merelakan Olivia di kehidupan barunya, dia sudah mempunyai incaran baru. Keke, gadis manis yang sedikit pendiam. Rio juga sudah mulai merelakan hubungan Cakka dengan Agni. Sekarang dia mulai dekat dengan salah satu gadis teman kuliahnya, namanya Ify. Sementara Cakka dan Agni sudah tunangan, tak ada yang menyangka mereka akan tunangan. Ray dan Acha benar-benar akan menjadi saudara ipar. Hubungan Ozy dan Acha pun semakin membaik, mereka saling melengkapi dan mengingatkan. Tak ada yang mengerti, bagaimana perasaan kedua anak itu.

Monday, 15 March 2010

Sembilan : Town Gate of Barbush

Town Gate of Barbush

Pagi itu Cakka, Agni, Rio, dan orangtua mereka sudah berada di rumah Pak Duta. Semalam Pak Duta mendapat kabar dari Obiet, bahwa adiknya akan mengantar anak-anak itu ke rumahnya. Pak Duta langsung memberitahu mereka supaya pagi ini datang ke rumahnya.
Agni duduk di tengah-tengah Cakka dan Rio, baru kali ini dia menangis begitu lama. Agni menutup wajahnya dengan kedua tangan, Cakka yang sekarang sudah menjadi pacarnya mencoba menenangkan. Dia mengusap-ngusap punggung Agni. Rio melihat mereka tanpa bicara apa-apa. Ingin sekali, rasanya dia berada di posisi Cakka. Merangkul Agni dan menenangkannya. Tapi itu tak mungkin, Rio masih punya perasaan. Tak mungkin dia begitu saja memeluk Agni, sementara Cakka ada di sana. Rio menghela napas, mencoba merelakan Agni untuk Cakka.
- - - - - - - - - - -

Monday, 8 March 2010

Delapan : Penyelamatan

Penyelamatan

Ozy membawa Acha melewati hutan, dia sendiri tak tahu, harus ke mana sekarang dia pergi. Ozy berhenti dan menidurkan Acha di atas rumput. Dia melihat wajah Acha semakin pucat, tapi dia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ozy tak tahu apa-apa tentang perobatan.
Setelah sekian lama Ozy mondar-mandir memikirkan cara menyembuhkan Acha, Ozy teringat pada Oik. Sebaiknya dia membawa Acha pada Oik, siapa tahu dia bisa mengobati Acha.
Malam itu masih larut, Oik masih sibuk dengan mimpinya. Dia mendengar ada yang mengetuk pintu. Dengan rasa kantuk yang masih menyerang, Oik bangun dan membuka pintu. Rasa kantuknya mendadak hilang begitu melihat Ozy berdiri di sana dengan seorang wanita pingsan di pangkuannya. Melihat pintu rumah terbuka, Ozy langsung masuk. Dia menidurkan Acha pada salah satu kursi yang ada di ruang tamu. Oik memandang Acha dengan perasaan cemas.
"Dia kenapa? Wajahnya begitu pucat. Mulutnya juga berdarah," kata Oik cemas.

Monday, 1 March 2010

Tujuh : Tawanan

Tawanan

Malam itu begitu dingin, Ray dan Acha duduk berimpitan dalam sebuah ruangan yang gelap. Memang, sekarang mereka sudah bisa melihat cahaya. Tapi ruangan itu begitu lembab dan gelap. Ray dan Acha tak tahu pasti bagaimana mereka bisa berada di sana. Tadi sore, ketika mereka terbangun, mereka sudah ada di sana. Tanpa Ozy. Sebenarnya mereka khawatir dengan keadaan Ozy, tapi mau bagaimana lagi, keadaan mereka juga cukup mengkhawatirkan saat ini.
Terdengar derap langkah memasuki ruangan. Ray dan Acha langsung merebahkan diri, pura-pura tidur. Orang itu memasuki ruangan. Bukan! Itu bukan orang! Postur tubuhnya seperti manusia, tapi tangannya runcing dan panjang. Matanya merah menyala, kulit wajahnya berkerut-kerut. Makhluk itu menyeringai memamerkan giginya yang tajam. Acha yang melihat dari sudut matanya, menahan napas. Berusaha supaya jeritan ketakutannya tidak keluar. Ray memejamkan matanya, tak ingin melihat makhluk itu.
Makhluk itu menghampiri mereka, menendang-nendang badan mereka, kasar. "Bangun! Tuan kami ingin bertemu kalian!"

Monday, 22 February 2010

Enam : Kaum Kracker

Kaum Kracker

Sambil menunggu Obiet pulang, selesai makan Oik mengajak Ozy berkeliling di sekitar rumahnya. Meskipun Ozy masih memikirkan kedua sahabatnya, tentu saja dia tak akan menolak kesempatan itu. Apalagi udara di sana begitu sejuk. Mereka terus bercerita sambil berjalan. Sesekali Ozy menghirup udara dengan penghayatan, menikmati udara Gunung Hurein yang segar meskipun sudah siang.
Ozy mengetahui sesuatu tentang Oik. Dari pembicaraanya dengan Oik, ia menyimpulkan kalau Oik adalah peri hutan. Dia suadah berusia ratusan tahun, tapi itu masih terbilang remaja dalam bangsa mereka. Dan setelah diperhatikan dengan teliti, ada satu kejanggalan dalam fisiknya. Ozy melihat telinga Oik berbeda dari telinga manusia. Telinga Oik sedikit lancip dan agak panjang. Oik punya juga punya kekuatan sihir untuk mengatur kehidupan Hutan di sekitarnya. Oik banyak bercerita tentang legenda-legenda Gunung Hurein yang hampir tak asing lagi di telinga Ozy.
"Kau pernah mendengar mitos, kalau yang masuk Gunung Hurein terlalu dalam tak akan kembali lagi?"
Gomawo~